Pengikut

Selasa, 03 Februari 2015

MASALAH ADAT ORANG-ORANG JAWA


MASALAH ADAT ORANG-ORANG JAWA
Pada suatu ketika Sunan Kalijaga mengusulkan agar adat istiadat orang jawa seperti selamatan, bersaji dll tidak langsung ditentang, sebab orang jawa akan lari menjauhi ulama jika ditentang secara keras. Adat istiadat itu diusulkan agar diberi warna atau unsur Islam.

Sunan Ampel bertanya atas usulan Sunan Kalijaga itu.

Apakah adat istiadat lama itu nantinya tidak mengkhawatirkan bila dianggap ajaran Islam? Padahal yang demikian itu tidak ada dalam ajaran Islam. Apakah hal ini tidak akan menjadikan bid’ah?

Pertanyaan Sunan Ampel ini dijawab oleh Sunan Kudus.
 .............

Saya setuju dengan pendapat Sunan Kalijaga, sebab ada sebagian ajaran agama Budha yang mirip dengan ajaran Islam, yaitu orang kaya harus menolong orang fakir miskin. Adapun mengenai kekhawatiran Kanjeng Sunan Ampel, saya mempunyai keyakinan bahwa di belakang hari nanti akan ada orang Islam yang akan menyempurnakannya.

Pendukung Sunan Kalijaga ada lima orang, sedang pendukung Sunan Ampel hanya dua orang yaitu Sunan Giri dan Sunan Drajad, maka usulan Sunan Kalijaga diterima. Adat istiadat jawa yang diwarnai Islam itu antara lain selamatan mitoni, selamatan mengirimdoa untuk orang mati (biasanya disebut tahlilan) dan lain-lain yang secara hakiki tidak bertentangan dengan aqidah Islam.

Pada suatu ketika para wali berkumpul setelah empat puluh hari meninggalnya Sunan Ampel. Sunan Kalijaga tiba-tiba membakar kemenyan. Para wali yang lain menganggap tindakan Sunan Kalijaga berlebihan karena membakar kemenyan adalah kebiasaan orang jawa yang tidak Islami.

Sunan Kudus berkata: membakar kemenyan ini biasanya dilakukan orang jawa untuk memanggil arwah orang mati. Ini tidak ada dalam ajaran Islam.

Sunan Kalijaga berkata: Kita ini hendak mengajak orang jawa masuk Islam, hendaknya kita dapat mengadakan pendekatan pada mereka. Kita membakar kemenyan bukan untuk memanggil awrah orang mati, melainkan sekedar mengharumkan ruangan, karena orang-orang jawa ini kebanyakan hanya mengenal kemenyan sebagai pengharum, bukan wangi-wangian lainnya. Bukankah wangi-wangian itu disunnahkan Nabi?

Tapi tidak harus membakar kemenyan kata Sunan Kudus.

Adakah didalam hadist disebutkan larangan membakar kemenyan sebagai pengharum ruangan? Tukas Sunan Kalijaga.

Wali lainnya hanya diam saja. Sementara Sunan Kudus yang sebenarnya lebih condong berpihak kepada Sunan Kalijaga kali ini entah mengapa merasa risih atas tindak-tanduk Sunan Kalijaga.

Sunan Kalijaga memang suka yang aneh-aneh, ujar Sunan Kudus. Tapi janganlah Sunan Kalijaga merendahkan martabat sebagai wali dengan memakai pakaian seperti itu.

Sunan Kalijaga memang lebih sering memakai pakaian seperti rakyat biasa. Celana panjang warna hitam atau biru dan baju dengan warna serupa, ikat kepalanya hanya berupa udeng atau destar.

Sunan Kalijaga menjawab, dihadapan Allah tidak ada yang istimewa. Hanya kadar taqwa yang jadi ukuran derajat seseorang bukan pakaiannya. Lagi pula ajaran Islam hanya menyebutkan kewajiban setiap umat menutup aurat. Tidak disebutkan harus memakai jubah atau sarung. Justru dengan pakaian seperti ini saya dapat bergaul dengan rakyat jelata dan dengan mudah saya dapat memberikan ajaran Islam kepada mereka.

Kembali para wali membenarkan pendapat Sunan Kalijaga.

Selanjutnya Sunan Kalijaga juga mengusulkan agar kesenian rakyat seperti gending, tembang dan wayang dapat diterima oleh para wali sebagai media dakwah. Usul ini oleh para wali akhirnya disetujui.

MASALAH SYEKH SITI JENAR


Intisari Ajaran Syekh Siti Jenar


“Ingsun menyaksikan pada zat-ingsun sendiri, dengan pernyataan, tak ada Tuhan melainkan Ingsun, dan menyaksikan pula bahwa Ingsun mempunyai utusan bernamaMuhammad.
Ingsun adalah sebenar-benarnya bernama Allah; Allah adalah badan Ingsun. Rasul itu rahasia Ingsun; Muhammad itu cahaya Ingsun, ya Ingsun yang hidup tak kena maut; Ya Ingsun yang selalu ingat tanpa mengenal lupa; ya Ingsun yang abadi; ya Ingsunlah yang terang penglihatannya, bahwa Ingsun mengetahui segala gerak-gerik dan tingkah laku makhluknya dimana dan saat kapanpun. Ingsun tak kenal khilaf, Ingsun yang maha menjadikan dan mengakhiri. Yang berkuasa secara bijaksana dan terbuka dengan tiba-tiba sempurna dan terang tetapi tak nampak sedikitpun gambaran yang serupa, melainkah Ingsun saja yang meliputi semesta hanya dengan kodrat Ingsun.” (sumber menurut : M. Hari Soewarno)

Perhatikan kata Ingsun yang sebenarnya tak boleh diucapkan untuk pribadinya, tetapi oleh Syekh Siti Jenar diucapkan seolah-olah dia sudah benar-benar sama dengan Tuhan. Sehingga Ingsun ditulis dengan Huruf Besar. Penyataan ini diucapkan atau dilahirkan oleh sang Guru itulah yang sebenarnya dilarang oleh para wali.

MENYADAP ILMU SEJATI DI GIRI KEDATON
Dalam sumber lain disebutkan bahwa Syekh Lemah Abang pernah berguru kepada Sunan Giri di Giri Kedaton atau Giri Gajah. Tetapi karena kelakukannya yang tidak senonoh yaitu suka mempelajari ilmu karang atau ilmu sihir maka ia tidak termasuk murid-murid terpilih. Sebab ilmu sihir yang mengandalkan bantuan jin dan setan itu dilarang oleh agama Islam.

Murid-murid yang terpilih artinya murid yang diperkenankan ikut mempelajari Ilmu Sepuh atau Ilmu Tua, yakni Ilmu Hak Sejati.

Tapi Syekh Lemah Abang tidak kekurangan akal. Ia tetap ingin mengikuti pelajaran tingkattinggi itu secara sembunyi-sembunyi. Yaitu dengan jalan mengerahkan ilmu sihir sehingga tubuhnya nejadi seekor cacing.

Ia mengikuti wejangan Sunan Giri, tapi karena dasar batinnya tidak jernih maka apa yang diserapnya jauh dari apa yang dimaksudkan oleh Sunan Giri.

Selanjutnya ia membuka perguruan, banyak murid-muridnya yang berdatangan untuk berguru kepadanya. Diantaranya adalah Ki Ageng Pengging. Lontang Asmara,  Pangeran Panggung, dll.

Namun karena pada mulanya ia menyadap ilmu dengan cara tidak benar maka ajaran yang disampaikan pun ajaran yang tidak benar.

Inti ajaran ini adalah Pantheisme atau manunggaling Kawula Gusti. Jadi dia sendiri telah mengaku bersatu dengan Tuhan.

MENGAKU DIRI SEBAGAI TUHAN
Syekh Siti Jenar sudah tidak mau lagi datang ke mesjid Demak. Kemudian dilanjutkan dengan tidak mau Sholat Jum’at. Bahkan tidak mau mengerjakan Sholat Lima Waktu. Murid-muridnya tentu saja turut kelakuan gurunya.

Tentu saja ajaran ini ditentang oleh para wali. Syekh Siti Jenar diberi peringatan namun tetap menyebarkan ajaran yang sesat itu. Padahal para wali sedang gencar-gencarnya menyiarkan agama Islam sesuai dengan Mazhhab Imam Syafii. Sholat adalah tiang agama, jika sholat sudah ditinggalkan pemeluk agama Islam berarti  telah merobohkan agama Islam itu sendiri.

Syekh Siti Jenar dipanggil oleh Sunan Giri untuk diajak musyawarah.

Utusan Sunan Giri bernama Santri Kodrat dan Malang Sumirang datang menyampaikan panggilan.

Tuan Siti Jenar diharap datang ke Giri Kedaton kata sang utusan.

Siti Jenar tidak ada, yang ada hanyalah Tuhan yang Maha Esa, jawab Syekh Siti Jenar dari dalam rumah.

Utusan yang sudah dibekali ilmu mantiq itu berkata dengan cerdiknya. Kalau begitu Tuhan yang dipanggil ke Giri Kedaton.

Syekh Siti Jenah berulah, Sekarang Tuhan tidak ada. Yang ada Siti Jenar.

Utusan cepat berkata, ya, Siti Jenar yang ada dipanggil ke Giri Kedaton.

Syekh Siti Jenar menjawab lagi Tuhan tidak memperkenankan Siti Jenar……

Utusan pun tidak mau kalah, cepat dia berkata: kalau begitu Tuhan dan Siti Jenar diminta datang ke Giri Kedaton.

Di dalam sidang ternyata Syekh Siti Jenar tidak mau merubah pendapatnya bahwa dia mendakwakan dirinya Tuhan. Tak perlu mengerjakan Sholat lagi dan tidak ada gunanya syariat. Itu hanya basa basi yang ada hanya hakekat demikian kata Syekh Siti Jenar.

Sunan Kalijaga menyahut, karena itukah tuan Siti Jenar tidak mau mengerjakan sholat?

Apa gunanya sholat? Tukas Siti Jenar. Allah dan Siti Jenar sudah bersatu. Kalau Siti Jenar menyembah Allah, itu berarti Allah menyembah Allah.

Itu ajaran sesat. Jangan hanya mementingkan hakekat. Harus penuhi syariat supaya mesjid tidak kosong dari para jama’ah, kata Sunan Giri.

Siti jenar tetap ngotot dengan pendiriannya. Itu namanya hanya berbuat kesia-siaan. Kalu umur ini hanya dipergunakan untuk sholat berarti waktu hanya habis untuk bersopan santun. Itu ilmunya orang bodoh dan kafir. Kalau orang itu betul-betul pasrah pada hakekatnya adalah persatuan Kawula Gusti.

Sunan Kalijaga cepat menanggapi perkataan Siti Jenar, itu ajaran sesat. Persis ajaran AL-Halaj di bagdad yang berpaham wihdatul Wujud, mengaku dirinya Tuhan Allah. Bila ajaran ini dibiarkan berlarut-larut maka akan membahayakan umat Islam di tanah jawa. Padahal iman mereka baru saja kita bina. Jika ajaran ini menyebar luas, umat Islam pasti akan terpecah belah.

Nabi Muhammad adalah Rasul terpilih, terjaga kesuciannya, namun beliau masih tetap melakukan syariat. Tekun mendirikan sholat. Ini Syekh Siti Jenar yang tidak diketahui asal-usulnya dengan jelas berani mengaku dirinya Tuhan dan tidak mau sholat. Jelas dia bermaksud merusak agama Islam yang kita syiarkan.

Akhirnya sidang para wali yang diketuai oleh Sunan Giri selaku Mufti tanah jawa memutuskan hukuman mati bagi Siti Jenar. Tetapi para wali cukup bijak. Siti Jenar diberi waktu setahun untuk merenung dan bertobat. Siapa tahu dalam waktu 1 tahun itu dia akan menyadari kesalahannya.

Selama 1 tahun sunan Kalijaga mendapat tugas mengawasi gerak gerik Siti Jenar. Ternyata Siti Jenar tidak berubah. Dia tetap berfaham Wihdatul Wujud atau manunggaling Kawula Gusti. Persatuan hamba dengan Tuhannya. Maka setelah lewat 1 tahun hukuman mati itupun dilaksanakan. Bertindak sebagai pelaksana adalah Sunan Kudus selaku Senopati Waliullah.

Walaupun Siti Jenar telah mati, tapi murid-murid nya masih banyak. Diantaranya adalah Kebo Kenanga atau Ki Ageng Pengging, Ki Ageng Tingkir, Lontang Asmara, dll.

Mengapa di babad tanah jawa dilukiskan Sunan Kudus seolah-olah membela Arya Penangsang? Karena Sunan Kudus tahu bahwa jalur pewaris ketiga tahta Demak yang sahadalaha ayahanda Arya Penangsang yang bernama Pangeran Seda Lepen. Tetapi ayah Arya Penangsang ini dibunuh oleh anaknya Sultan Trenggana. Kemudian Sultan Trenggana mengambil Jaka Tingkir Putera Ki Ageng Pengging sebagai menantunya. Padahal Ki Ageng Pengging adalah murid syekh Siti Jenar. Jaka Tingkirpun dengan setia menganut paham Manunggaling Kawula Gusti.

Maka dalam sengketa Jipang-Panjang atau Jaka Tingkir dan Arya Penangsang. Sunan Kudus yang pernah menghukum mati Siti Jenar itu berpihak kepada Arya Penangsang. Karena Arya Penangsang adalah muridnya yang setia menganut faham ahlussunnah.

Ajaran-ajaran Siti Jenar yang dimasa Raden Patah dilarang keras, pada jaman Sultan Hadiwijaya (gelar Jaka Tingkir setelah jadi Raja Pajang) dijadikan ajaran resmi kerajaan. Ajaran ini terus berkembang hingga awal kebangkitan Mataram dibawah Panembahan Senopati hingga puncak kejayaan Mataram dibawah Sultan Agung.

Pengganti Sultan Agung adalah susuhunan Amangkurat 1. Dia tidak mau kalah dengan gelar para wali yang disebut Sunan, dia menambahkan kata Su lagi dari kata Sunan sehingga menjadi Susuhunan yang artinya harus dijunjung tinggi. Amangkurat artinya yang memangku dunia. Dia menanamkan ajaran kepada rakyat bahwa kepada raja harus takut seperti takutnya pada Tuhan.

Seperti tersebut dalam sejarah, kehidupan Amangkurat 1 ini penuh dengan huru-hara. Demi kenikmatan dunia ia rela menjual negaranya kepada kompeni Belanda. Padahal Sultan Agung sangat anti kepada Belanda.

Amangkurat menganggap dirinya Tuhan sehingga boleh berbuat apa saja seenaknya. Baru satu tahun ia berkuasa sudah banyak menimbulkan korban. Pangeran Alit dan Cakraningrat 1 dari Madura dibunuh tanpa suatu alasan yang jelas.

Ketika seorang selirnya yang cantik meninggal dunia ia langsung membunuh 43 selirnya yang lain, dengan alasan 43 selirnya itu sengaja meracuni Ratu Malang selirnya yang paling cantik itu.

Saudaranya yang lain yaitu Pangeran Pekik dibunuh beserta seluruh keluarganya secara kejam. Pendek kata kekejamannya hampir sama dengan Raja Firaun. Tentu saja ini menimbulkan reaksi keras dikalangan rakyat.

Timbullah suara-suara sumbang tentang dirinya.

Dalam suasana yang keruh ini ada pihak-pihak yang sengaja memanfaatkannya. Mereka adalah para kaki tangan Raja yang sangat benci pada Dinasti Demak dan Giri Kedaton. Sebagaimana diketahui Demak dan Giri Kedaton adalah kekuatan utama yang menyangga kelangsungan aliran ahlussunnah. Sementara raja Amangkurat pendukung utam aliran syi’ah yang telah bercampur dengan faham kejawen.

Orang-orang syiah kejawen itu menghasut raja bahwa yang menimbulkan isu tidak puas dikalangan masyarakat adalah para ulama dari Giri Kedaton. Semua orang mau menghormat kepada Raja dengan cara membungkuk dan menyembah kakinya. Hanya para ulama Giri Kedaton yang tidak mau melakukan penghormatan seperti itu. Maka Sunan Amangkurat memerintahkan kaki tangannya untuk mengumpulkan para ulama Giri Kedaton dan yang erat kaitannya dengan Giri Kedaton.

Sebanyak 6000 Ulama Ahlussunnah dikumpulkan di alun-alun, dibantai secara keji dihadapan Sunan Amangkurat 1. Inilah bukti sejarah hitam dari penganut faham syiah kejawen warisan Siti Jenar yang mengajarkan persatuan hamba dengan Tuhan.

Kenapa merasa dirinya itu Tuhan, maka Sunan Amangkurat tega berbuat apa saja termasuk membantai 6000 Ulama Ahlussunnah.

Jumat, 30 Januari 2015

JENIS BATU DAN KHASIATNYA


AMBER= pemancar daya tarik
AMARICAN STAR= pesona dan daya tarik
AQUAMARIN= penyejuk batin dan keluarga
BADAR LUMUT=ketenangan batin
BADAR TOLO = kerukunan
BADAR BESI MERAH =penangkal sial dan tolak bala
BATU AIR =kerukunan keluarga dan rejeki
BATU API =ketenangan dan kharisma
BATU LANGGENG = keselamatan dan tolak bala
BATU DARAH = tolak kiriman jahat
BAIDURI BULAN =kejernihan batin dan kesabaran
BAIDURI LAUT = daya tarik lawan jenis
BAIDURI PANDAN = kesabaran
BAIDURI SEPAH =semangat hidup
BAIDURI SURYA = percaya diri dan semangat
BLACK CAT EYE = ketajaman indera ke enam
BLACK OPAL =tajam insting dan daya magis
BLACK SAPHIR= tajam insting dan daya pesona
BLACK STAR =peredam emosi
BULU MACAN =wibawa kuat dan karir
CHIRSOPHRASE =kesejukan pikiran
CHIRSOBERYL = ketajaman insting dan pikiran
COMBONG = penarik lawan jenis
FOSIL KELOR = perlindungan dan tolak bala
FOSIL MANI GAJAH = daya tarik , rejeki, karir
FOSIL PATI LELEH = mengembalikan ilmu jahat
FOSIL STEGI = sedot racun serangga
GARNET =perbanyak relasi
GINGGANG =terhindar marabahaya
GIOK = kesejukan batin dan relasi
INTAN = jernih pikiran dan jiwa
JABARJUD= ketenangan jiwa
KAKI TIGA = jalan puncak karir
KECUBUNG = simpati dan kasih sayang
KECUBUNG AIR = tenaga prana dan inspirasi
KECUBUNG RAMBUT = relasi dan gairah hidup
KECUBUNG TEA = keteduhan jiwa
KECUBUNG WULUNG = pelebur kiriman jahat
KENANGGA =gairah hidup dan pesona
KENDIT = keutuhan rumah tangga
KOL BUNTET =anti santet
KRISTAL ALAM =tenaga prana dan inspiraso
LABRADOR= ketajaman insting
LAPIS LAZULLI= peredam emosi
LIRABANG =semangat hidup
MALAKIT =penguras stess
MANIK RINGIN =peneduh masa
MATA DEWA = wibawa dan kepemimpinan
METEORIT =penyerap energi alam
MUSTIKA KELAPA =penglaris usaha dan tolak bala
MUTIARA =kecantikan dan kesuburan
NAGASUI =membuka rintangan
NEFRIT=pengurang kebimbangan
OBISIDIAN =keseimbangan batin
ONGKO WULU=kelancaran bisnis
ONIX HITAM = perlindungan bisnis
OPAL = keceriaaan dan daya tarik
PANCA WARNA = karier dan bijaksana
PASIR EMAS =kecantikan dan kesuburan
PERIDOT =kebugaran dan ketenangan
PIRIT =percaya diri dan ketenangan
PIRUS DAUN =murah rejeki
PIRUS PARSI =penarik relasi
PUSER BUMI= daya tarik relasi dan bisnis
ROSE QUARTS = gairah cinta dan kesuburan
RUBY =wibawa dan percaya diri
SAFIR =optimis dan inisiatif
SAFIR KUNING = pesona dan daya tarik
SINERET =memutuskan kesialan
SITRIN =ketajaman insting dan pikiran
SODOLANANG=menekuk kekuatan lawan
SPINEL =ketenangan jiwa
SULEMAN MADU =percaya diri dan insting
TAPAK JALAK =ketajaman insting
TAPAK MUJUR = kemudahan usaha
TOPAZ =peredam emosi
TUNJUNG DARJAT =kemudahan karir
TURMALIN = ketegaran dan adaptasi
YAMAN YULUNG =pelebur kiriman jahat
YINYANG =keseimbangan batin dan waspada
ZAMRUD =kesejukan batin dan suasana
ZIRCON =kejernihan pikiran
Mengenai betul atau tidaknya semua fungsi batu bertuah (batu akik) di atas, semua kembali kepada kepercayaan dan keyakinan si pemilik batu bertuah / batu akik itu sendiri. Dan tentunya harus tetap yakin bahwa semua itu berasal dari Tuhan Yang Maha Esa.

Misteri Gunung Ciremai


Gunung Ciremai yang berketinggian 3078 meter di atas permukaan laut memiliki banyak jenis tumbuhan. Mulai dari pohon pinus, pohon seruni, dan dan pohon kopi. Jenis margasatwa pun banyak berkeliaran. Dari sekian banyak tumbuhan dan jenis burung ada beberapa hewan yang dipercaya mempunyai kekuatan mistik. Mendekati puncak, banyak beterbangan ayam alas dengan bulunya yang bersih mengkilat. Gunung Ciremai identik dengan Sunan Gunung Jati, salah satu Walisongo, penyebar Islam di Jawa Barat.

Sekitar tahun 1521-1530, Sunan Gunung Jati diyakini bertapa di puncak Ciremai. Ketika itu, bangsa Portugis begitu kuat menekan para ulama, pejuang, dan rakyat kecil. Menjelang peperangan, Sunan Gunung Jati naik ke puncak Ciremai bertapa, menyendiri dan bermunajad kepada Tuhan. Tempat tapa dan pertemuan para wali itu bernama Batulingga dan diyakini oleh masyarakat Cirebon sebagai tempat ngalap berkah memberi manfaat dan membantu orang-orang yang dalam kesulitan.

Nyi Linggi dan Macan Tutul
Satu misteri yang selalu menjadi perbincangan masyarakat sekitar Gunung Ciremai adalah misteri Nyi Linggi dan dua macan kumbang. Menurut Maman, salah satu juru kunci Ciremai, setelah Sunan Gunung Jati tidak bertapa di Batulingga, maka Nyi Linggi datang ke tempat tersebut menggantikan Sunan Gunung Jati.

Namun kedatangan Nyi Linggi ke Batulingga tidak sendirian, ia ditemani oleh dua binatang kesayangannya yaitu macan tutul. Kedatangan Nyi Linggi ke Batulingga ingin mendapatkan ilmu kedigdayaan. Tapi sayangnya Nyi Linggi gagal memperoleh ilmu yang diinginkan. Nyi Linggi meninggal dunia di Batulingga sementara dua temannya yaitu macan tutul hilang entah ke mana. Kabarnya masyarakat setempat menemukan mayat Nyi Linggi. Kejadian aneh sering terjadi di sekitar Batulingga, yaitu sosok Nyi Linggi dan dua macan tutul sering menampakkan diri.

Cikal Bakal Nenek Moyang
Selain sebagai tempat bertapanya Sunan Gunung Jati, ternyata Gunung Ciremai sejak ribuan tahun silam telah dihuni oleh manusia purba. Masyarakat Kuningan dan sekitarnya terutama mereka yang hidup di kawasan kaki Gunung Ciremai merasa bangga. Mereka yakin bahwa asal-usul orang-orang Jawa Barat datangnya dari Gunung Ciremai. Keyakinan tentang hal ini diperkuat oleh ditemukannya beberapa benda bebatuan yang diyakini zaman Batu Besar. Umurnya sekitar 3.000 tahun Sebelum Masehi.

Pada tahun 1972 ditemukan batu besar berbentuk peti mati. Penemuan itu mengandung makna bahwa di kaki Gunung Ciremai telah dihuni oleh manusia sejak ribuan tahun Sebelum Masehi. Dipercaya pula bahwa arwah nenek moyang berkumpul dan sering menampakkan diri. Para ahli peneliti sepakat bila wilayah Kuningan Gunung Ciremai merupakan tempat bermukim manusia tua usia. Mereka memuja arwah nenek moyang untuk meminta berkah kesuburan tanah, kemakmuran, dan kesejahteraan.

Injak Bumi Hindari Hantu
Maman (juru kunci Ciremai yang mengantar posmo ke puncak Ciremai) selalu menghentikan langkahnya dan mengucapkan Assalamualikum ketika memasuki pos. Menurut Maman, jika ingin selamat dan tidak diganggu oleh dedemit nakal injak bumi sebanyak tiga kali lalu ucapkan salam. Ini bermakna bahwa penghuni pos atau dedemit penguasa tidak merasa tersinggung oleh datangnya manusia. ‘’Di sini (Ciremai) banyak manusia jadi korban. Tidak hanya manusia yang mati, tapi juga kuda. Mereka tidak kuat melaksanakan tugas yang dibebankan penjajah Belanda, hingga menemui ajalnya,’’ kata Maman.

Misteri Jalak Hitam
Ketika perjalanan sudah mencapai Pengalap atau pos VI, berarti pendakian telah mencapai separuh. Dan harus berhati-hati jika sudah memasuki Pengalap atau pos VI. Pengalap berarti jemputan. Di pos Pengalap setiap pendaki akan didatangi dua binatang yang sampai sekarang masih misteri keberandaannya, yaitu Jalak Hitam dan Tawon Hitam.

Maman yang mengaku naik ke puncak 3 kali setiap bulan, sampai sekarang mengaku belum tahu mengapa Jalak Hitam selalu mengiringi pendaki dari Pengalap ke Seruni. Dan, juga Tawon Hitam yang selalu datang mengganggu. Pengasinan berarti asin. Khusus bagi masyarakat Linggarjati bermakna bahwa siapa saja yang ingin mencapai puncaknya dengan cepat dan selamat sampai di rumah diharuskan membawa ikan asin.

Enam Belas Jam Menuju Puncak
Gunung Ciremai diapit dua kabupaten yaitu Kuningan sebelah timur dan Majalengka sebelah barat. Untuk mencapai puncak Ciremai bisa melalui tiga jalur yaitu Linggarjati dari arah timur, Pelutungan dari arah selatan, dan Majalengka dari arah barat. Medan paling berat dan menguras tenaga dan juga sangat berbahaya adalah jalur dari sisi timur melewati Desa Linggarjati, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan. Jarak tempuhnya kurang lebih 8 km, 90 persen jalannya terjal.

Gunung Ciremai termasuk salah satu gunung paling berat di tanah Jawa. Masyarakat setempat dan juga para pendaki menyebutnya jalur maut. Untuk mencapai puncaknya butuh waktu sekitar 12 sampai 16 jam perjalanan. Tergantung kekuatan fisik pendaki. Gunung Ciremai memang tidak terlalu tinggi, hanya 3.078 mdpl. Namun start pendakian dimulai dari ketinggian sekitar 750 mdpl, maka perjalanan cukup panjang.

Dengan demikian, sisa perjalanan menuju puncak Ciremai sekitar 2.350 meter garis vertikal atau sekitar 8 km melalui jalur. Perlu diketahuil, dari semua gunung yang ada di tanah Jawa hanya Gunung Ciremai-lah yang start pendakiannya dimulai dari ketinggian 750 mdpl. Jalur dakinya tidak ada jalan datar, 90 persen berjalur terjal dan sudut kemiringannya antara 70 sampai 80 derajat.

Pantangan di Gunung Ciremai
Menurut juru kunci gunung, pantangan di Gunung Ciremai tidak boleh mengeluh, memegang lutut, kencing dan buang air besar sembarangan. Setiap memasuki pos diharuskan mengucapkan salam sebagai tanda minta izin masuk dan pertanda kesopanan. Menurut Maman, setiap pos yang jumlahnya 12 pos banyak dihuni dedemit. Ucapan salam tidak hanya ketika datang tapi juga saat meninggalkan gunung.
Diposkan oleh 'blog penasaran' di 08.59

Gunung Ciremai juga terkenal dengan mitos Nini Pelet.
Pelet itu berasal dari nama seorang tokoh legendaris, ialah Nini Pelet dari gunung Ciremai Cirebon, dan Mbah Buyut Pelet dari Pajajaran.

Jadi istilah Pelet yg bertujuan untuk menarik pujaan hati,
ialah berasal dari istilah ketenaran seorang tokoh yg ilmunya sangat hebat dalam bidang percintaan, yg dalam hal ini ialah kedua tokoh dari Sunda tersebut

Spirit dari Nini Pelet, ialah Djinn Quraesin dari Rawa Onom Banjar Parahyangan zaman Prabu Selang Kuning, sebagian berpendapat dewi quraesin ini bukan dari rawa onom tapi bertempat di kaki gunung ciremai .
Dewi Quraesin dan Nyi Pelet itu dapat dikalahkan keilmuannya oleh Ki Buyut Mangun Tapa dari Cirebon keturunan Mbah Kuwu Cakrabuana dan Kitab Ilmu Pelet Dewi Quraesin dapat direbut oleh Ki Buyut dan dipelajari juga disempurnakan dengan keilmuan hikmah. Sehingga Ilmu Pelet Jaran Goyang sekarang terbagi menjadi 2 silsilah dan khodam ada yang berasal dari Nini Pelet dan Dewi Quraesin ada yang berasal dari Ki Buyut Mangun Tapa.

JALUR PENDAKIAN GUNUNG CIREMAI

Jalur Linggarjati

Jalur pendakian dari Linggarjati ini sangat jelas, karenanya menjadi pilihan utama para pendaki. Dibandingkan dengan jalur lain, jalur Palutungan misalnya, jalur Linggarjati ini lebih curam dan sulit, dengan kemiringan sampai 70 derajat. Di jalur ini air hanya terdapat di Cibunar.

Dari Desa Linggarjati berjalan lurus, kurang lebih 1/2 jam, mengikuti jalan desa melewati hutan pinus, kita akan sampai di Cibunar (750 m.dpl). Disini kita menjumpai jalan bercabang, ke arah kiri menuju sumber air dan lurus ke arah puncak. Kalau tidak bermalam di Desa Linggarjati, kita bisa berkemah di Cibunar ini.
Persediaan air hendaknya dipersiapkan disini untuk perjalanan pulang pergi, karena setelah ini tidak ada lagi mata air. Dari Cibunar, kita mulai mendaki melewati perladangan dan hutan Pinus, dan kita akan melewati Leuweung Datar (1.285 m.dpl), Condang Amis (1.350 m.dpl), dan Blok Kuburan Kuda (1.580 m.dpl), disini kita dapat mendirikan tenda. Dari Cibunar sampai ke Blok Kuburan Kuda dibutuhkan waktu kira-kira 3 jam.
Jalur akan semakin curam dan kita akan melewati Pengalap (1.790 m.dpl) dan Tanjakan Binbin (1.920 m.dpl) dimana kita bisa temui pohon-pohon palem merah. Selanjutnya kita lewati Tanjakan Seruni (2.080 m.dpl), dan Bapa Tere (2.200 m.dpl), kemudian kita sampai di Batu Lingga (2.400m.dpl), dimana terdapat sebuah batu cukup besar ditengah jalur. Menurut cerita rakyat, dasar kawah Gunung Ciremai sama tingginya dengan Batu Lingga ini. Perjalanan dari Kuburan Kuda sampai ke Batu Lingga ini memakan waktu sekitar 3 - 4 jam. Di beberapa pos, kita dapat jumpai nama tempat tersebut, walaupun kadang kurang jelas karena dirusak. Dari Batu Lingga kita akan melewati Sangga Buana Bawah (2.545 m.dpl) dan Sangga Buana Atas (2.665 m.dpl), mulai di jalur ini kita bisa memandang kearah pantai Cirebon. Burungburung juga akan lebih mudah kita jumpai di daerah ini, dan selanjutnya kita akan sampai di Pengasinan (2.860 m dpl), yang dibutuhkan waktu sekitar 1,5 jam dari Batu Lingga. Di sekitar Pengasinan ini akan dijumpai Edelweis Jawa (Bunga Salju) yang langka itu, namun dari waktu ke waktu semakin berkurang populasinya. Dari Pengasinan menuju puncak Sunan Telaga atau Sunan Cirebon (3.078 m.dpl) masih dibutuhkan waktu sekitar 0,5 jam lagi, dengan melewati jalur yang berbatu-batu.

Dari puncak, akan kita saksikan pemandangan kawah-kawah Gunung Ciremai yang fantastis. Bila cuaca cerah kita juga dapat menikmati panorama yang menarik ke arah kota Cirebon, Majalengka, Bandung, Laut Jawa, Gunung Slamet dan gunung-gunung di Jawa Barat. Pemandangan lebih menarik akan kita jumpai pada waktu matahari terbit dari arah Laut Jawa. Suhu di puncak bisa mencapai 8 -13 C. Dari puncak ke arah kanan kita bisa menuju ke kawah belerang yang ditempuh dalam 1,5 jam perjalanan. Untuk mengitari puncak dan kawah-kawahnya, diperlukan waktu 2,5 jam.

Dari Puncak kearah kiri 15 - 20 menit perjalanan, kita akan jumpai 3 buah cerukan, yang posisinya lebih rendah dari puncak dinding kawah, tempat yang cukup nyaman untuk bermalam dan berlindung dari tiupan angin kencang dari arah kawah.

Perjalanan mendaki puncak Gunung Ciremai rata-rata membutuhkan waktu 8-11 jam dan 5-6 jam untuk turun, dengan demikian kita harus mendirikan tenda di perjalanan. Karena itu perlengkapan tidur (sleeping bag, tenda dsb.), dan perlengkapan masa adalah suatu keharusan.

Pendakian pada musim kemarau cukup menyenangkan karena cuaca lebih bersahabat, dan kondisi medan tidak terlalu licin, serta pemandangan lebih cerah.

Jalur Palutungan

Jalur Palutungan tidak terlalu curam seperti jalur Linggarjati, tetapi kita harus menambah waktu tempuh 2-3 jam. Dari Terminal Kuningan kita bisa langsung menuju Desa Palutungan yang jaraknya 9 km dengan Angkutan Pedesaan. Fasilitas telepon Interlokal terakhir tersedia di Kuningan. Di Palutungan hanya ada toko-toko kecil, maka sebaiknya keperluan logistik untuk bekal pendakian dipenuhi di Kuningan. Di Desa Palutungan terdapat areal perkemahan yang bernama Bumi Perkemahan Erpah, perjalanan hanya membutuhkan waktu 10 menit, dan setiap hari libur banyak pengunjung berwisata di tempat ini. Persedian air untuk pendakian sebaiknya disiapkan di desa ini dan untuk menginap.

Dari Palutungan pendakian kita teruskan melalui Cigowong Girang (1.450 m.dpl), selama 3 jam perjalanan, dimana terdapat sebuah sungai kecil yang lebarnya ± 1 - 1,5 m. Disini kita bisa menambah persediaan air dan mendirikan tenda di tempat ini, walaupun tempatnya kurang memadai dan suhu sudah cukup dingin. Selanjutnya kita akan memasuki hutan dan melalui Blok Kuta (1.690 m.dpl) dan Blok Pangguyungan Badak (1.790 m.dpl).
Dari Tegal Jumuju perjalanan kita teruskan menuju ke Sanghyang Rangkah, Selama 2 jam perjalanan. Di Sanghyang Rangkah menuju terdapat lokasi pemujaan yang sering di pergunakan oleh penduduk di sekitar lereng untuk upacara memohon keselamatan. Dari sini perjalanan kita teruskan menuju ke Gua Walet (2.925 m dpl), selama 4 jam perjalanan.

Gua walet merupakan bekas letusan yang berbentuk terowongan. Disini kita juga bisa mendirikan tenda untuk bermalam. Esok harinya kita bisa menuju ke Tepi Kawah (3.056 m dpl) dan Langsung ke puncak, selam 3 jam perjalanan.

Pemanduan, Perijinan dan Keadaan Darurat
Jika ingin mendaki Gunung Ciremai kita dapat meminta ijin di PERHUTANI Kuningan dan Polisi setempat (POLSEK Kuningan), dengan alamat: PERHUTANI KPH Kuningan Jl. Siliwangi 43 Kuningan- Jawa Barat (Telp. 0232-81144). Kita juga harus mendapat Rekomendasi dari Dinas Sosial Politik (Ditsospol) Kabupaten Kuningan dan Ijin dari Kepolisian Resort Kuningan.

Bila kita mendaki lewat Desa Linggarjati, kita harus melapor ke petugas PERHUTANI, Pak Juned untuk perbaikan pondok pendaki. Pak Juned dapat memberi informasi tentang jalur pendakian Gunung Ciremai, juga bisa membantu mencarikan pemandu atau porter. Bila kita lewat jalur Apui kita melapor dahulu kepada PERHUTANI unit Apui.Untuk mencari Pemandu gunung dapat di cari di Apui. Bila terjadi keadaan darurat saat melakukan pendakian di Gunung Ciremai selain menghubungi aparat desa setempat,bisa juga menghubungi Organisasi Pencinta Alam, AKAR di Kuningan dan WANADRI di Bandung.

Perjalanan kita teruskan dengan melewati Blok Arban (2.030 m.dpl), kemudian Tanjakan Assoy (2.108 m.dpl). Di tempat ini kita bisa beristirahat sebelum melewati tanjakan yang cukup curam. Dari Cigowong Girang diperlukan waktu 4-5 jam menuju tempat ini. Selanjutnya kita akan melewati Blok Pesanggrahan (2.450 m.dpl) dan Blok Sanghyang Ropoh (2.590 m.dpl), kemudian kita akan sampai pada pertigaan (2.700 m.dpl) yang menuju ke Apui dan ke Kawah Gua Walet. Kira-kira 2 jam waktu tempuh dari Tanjakan Assoy ke pertigaan ini. Dari pertigaan kita menuju Kawah Gua Walet (2.925 m.dpl) dan ke puncak Sunan Cirebon, yang diperlukan waktu 1,5 jam perjalanan.

Jalur Maja (via Apui, Cipanas )

Untuk mencapai kampung Apui, Cipanas. Dari arah kota Cirebon naik bus menuju ke Majalengka, lalu dilanjutkan dengan naik minibus menuju ke Maja (556 m dpl). Setelah sampai di Maja kita turun dan naik lagi Angkutan Pedesaan menuju ke Desa Cipanas. Di Desa Cipanas kita akan menemui lahan bekas perkebunan Teh Argalingga yang sangat luas tapi sekrang telah berubah menjadi lahan sayur-sayuran. Di sini saat matahari tenggelam di ufuk barat pemandangannya sangat indah.

Dari desa Cipanas, perjalanan kita teruskan menuju ke kampung Apui (1.100 m dpl) dengan angkutan pedesaan. Setiba di kampung Apui kita mempersipakan kebutuhan air karena sepanjang jalur pendakian tidak terdapat mata air. Kampung Apui, Mayoritas penduduknya Sunda dan bermata pencaharian sebagai petani sayur-sayuran. Jalan masuk ke kampung ini banyak terdapat tanjakan - tanjakan dengan kemiringan hampir 70 derajat.

Awal pendakian dimulai melewati perladangan dan hutang produksi selam 3-4 jam kita akan sampai di Berod. Disini kita akan menemui pertigaan, kita ambil yang ke arah puncak). Setiba di Berod perjalanan kita teruskan menuju ke Simpang Lima (Perempatan Alur), perjalanan memakan waktu sekitar 0,5 jam dari Berod, lalu di teruskan menuju Tegal Mersawah. Di Tegal Mersawah perjalanan langsung kita teruskan menuju ke Pangguyangan Badak. Disini kita bisa beristirahat. Perjalanan kita teruskan 2 jam lagi kita akan sampai di Tegal Jumuju (2.520 m dpl). Dari Tegal Jumuju perjalanan kita teruskan menuju ke Sanghyang Rangkah, Selama 2 jam perjalanan. Di Sanghyang Rangkah menuju terdapat lokasi pemujaan yang sering di pergunakan oleh penduduk di sekitar lereng untuk upacara memohon keselamatan. Dari sini perjalanan kita teruskan menuju ke Gua Walet (2.925 m dpl), selama 4 jam perjalanan.

Gua walet merupakan bekas letusan yang berbentuk terowongan. Disini kita juga bisa mendirikan tenda untuk bermalam. Esok harinya kita bisa menuju ke Tepi Kawah (3.056 m dpl) dan Langsung ke puncak, selam 3 jam perjalanan.

Pemanduan, Perijinan dan Keadaan Darurat
Jika ingin mendaki Gunung Ciremai kita dapat meminta ijin di PERHUTANI Kuningan dan Polisi setempat (POLSEK Kuningan), dengan alamat: PERHUTANI KPH Kuningan Jl. Siliwangi 43 Kuningan- Jawa Barat (Telp. 0232-81144). Kita juga harus mendapat Rekomendasi dari Dinas Sosial Politik (Ditsospol) Kabupaten Kuningan dan Ijin dari Kepolisian Resort Kuningan.

ASAL-USUL DESA BODELOR

Syahdan diceritakan, pada +/- Tahun 1445 Masehi. Pangeran Walangsungsang ( Mbah Kuwu Cirebon ) setelah belajar agama islam diperguruan Amparan Jati, dengan Syekh Datul Kahfi sebagai gurunya memerintahkan Mbah Kuwu Cerbon untuk segera mengadakan dakwah islamiyah di seluruh tatar Cerbon. Diantaranya wilayah-wilayah yang dikunjunginya adalah wilayah Perdikan Plered, Megu dan Plumbon. Waktu itu dari persisir Lemahwungkuk sampai Perdikan Plered masih berada dalam kekuasaan Kadipaten Wanagiri (Palimanan) Kerajaan Galuh. Setelah berhasil menyampaikan dakwah islamiyah kepada Ki Gede Plered, perjalanan menuju Perdikan Megu dan Ki Gede Megu pun menerima dakwah islamiyah secara sukarela. Dan pada waktu itu Ki Gede Megu menyarankan agar Mbah Kuwu Cerbon melanjutkan dakwah islamiyah nya ke Ki Gede Plumbon. Dan untuk menuju kesana agar menggunakan jalan pintas yaitu  memotong jalan ke arah barat melintasi hutan belantara yang masih asri dan belum terjamah oleh tangan manusia.
Diceritakan, setelah masuk dalam hutan, karena waktu sholat dzuhur  telah tiba, maka ketika menemukan sebuah sungai, Mbah Kuwu Cerbon mengambil air wudhu. Sampai sekarang sungai tersebut diberi nama Sungai Kaliwulu ( sungai tempat berwudhu ). Dan tempat bermuaranya sungai itu diberi nama Desa Kaliwulu.
Setelah berwudhu, Mbah Kuwu Cerbon mencari tanah yang lebih tinggi untuk melaksanakan sholat dzuhur. Setelah itu beliau melaksanakan sholat hajat dua rakaat, dan berdoa : “semoga wilayah hutan ini, yang airnya bening, segar dan udaranya sejuk ini agar tetap lestari. Dan kelak dikemudian hari, bila dihuni oleh anak cucunya, akan diberikan kesejahteraan, kebahagiaan, kejayaan, dan kebesaran berdasarkan Syareat Islam.
Setelah selesai shalat dzuhur, Mbah Kuwu Cerbon memberi nama hutan ini dengan nama HUTAN WANAJAYA , artinya hutan yang lestari dan jaya makmur sampai akhir jaman (sebagai bukti, sampai sekarang disebelah barat sungai Temiyang. Terdapat sebuah kampung yang disebut Blok Wanajaya, yang sekarang wilayah tersebut termasuk ke dalam Desa Marikangen).
Peristiwa ini terjadi pada +/- Tahun 1445 Masehi, lalu Mbah Kuwu Cerbon melanjutkan perjalanan ke arah barat menuju wilayah Plumbon.
Pada awal berdirinya Kerajaan Cerbon yaitu +/- Tahun 1479 Masehi, hutan Wanajaya, atas saran Mbah Kuwu Cerbon, oleh Sunan Gunung Jati selaku Raja Cerbon, hutan ini ditetapkan sebagai hutan lindung yang tidak boleh diganggu keberadaannya, kecuali bila sudah berusia diatas 1000 tahun.

PERNIKAHAN  PANGERAN WIRASABA DAN NYI MAS AYU NAINDRA LAMARAN SARI
 
Syahdan diceritakan, pada +/- Tahun 1574 Masehi, setelah hari raya Idhul Fitri, Keraton Pakungwati Cerbon pimpinan Panembahan Ratu seperti biasa mengadakan halal bi halal dan silaturrahmi seluruh keluarga kerajaan dan keturunan Sunan Gunung Jati, baik yang di pusat maupun yang berbeda didaerah. Dan acara ini diselenggarakan tepatnya setelah acara “Grebeg Syawal” yaitu tanggal 8 Syawal 994 Hijriyah.
Setelah silaturrahmi semua keturunan Sunan Gunung Jati Selesai, Panembahan Ratu mengumpulkan keluarga khusus keturunan Sunan Gunung Jati dari Nyi Tepasari, yaitu : Nyi Mas Wanawati Raras beserta anak-anaknya dan saudara-saudaranya. Para paman dan bibi beserta anak-anakanya, yang merupakan keturunan dari Pangeran Pasarean, yaitu Pangeran Kesatrian, Pangeran Losari,Pangeran Swarga ( sudah meninggal +/- Tahun 1568 Masehi., maka beliau tidak hadir. Pangeran Swarga dinobatkan sebagai Adipati Cirebon ke II (dua) menggantikan ayahnya Pangeran Pasarean). Nyi Ratu Emas, Pangeran Wirasuta, Pangeran Sentana Panjuanan dan Pangeran Wiranegara / Pangeran Weruju.).
Dari pertemuan keluarga besar Sunan Gunung Jati dari Nyi Tepasari ini, salah satu butir keputusannya adalah sepakat demi untuk menyambung dan mengikat tali persaudaraan bagi keluarga keturunan Sunan Gunung jati dari Nyi Tepasari yang wilayahnya berjauhan, maka diadakan ikatan pernikahan antar keluarga keturunan Sunan Gunung Jati dari Nyi Tepasari.
Dan pada saat itu juga diputuskan, bahwa Pangeran Wirasaba anak dari Pangeran Swarga dan Nyi Wanawati Raras atau juga merupakan adik kandung Panembahan Ratu akan dinikahkan dengan Nyi Mas Ayu Naidra Lamaran Sari, anak bungsu dari Pangeran Losari dan Nyi Silih Asih.
Maka pada hari jumat, ba’da sholat jumat tanggal 5 Desember 1574 Masehi, maka bertepatan dengan tanggal 11 Syawal Tahun 994 Hijriyah, diadakan pernikahan antara pangeran Wirasaba (Putra Pangeran Swarga) yang berusia 23 tahun dengan Nyi Mas Ayu Naidra Lamaran Sari (Putri Pangeran Losari) yang juga berusia 23 tahun.
Penembahan Ratu sebagai saudara kandung Pangeran Wirasaba, merasa sangat bahagia. Dan untuk membuktikan kebahagiaan itu, beliau berkenan memberikan hadiah kepada kedua mempelai berupa sebuah kawasan hutan yaitu, Hutan Wanajaya dan seekor Kerbau Bule Raksasa, bukan untuk dipotong melainkan untuk dikelola tenaganya dalam rangka membuka kawasan hutan tersebut kelak.

KEPERIBADIAN  
 PANGERAN WIRASABA DAN NYI MAS AYU NAINDRA LAMARAN SARI
Perlu diketahui, meskipun usia Pangeran Wirasaba dan Nyi Mas Ayu Naindra Lamaran Sari itu tidak berbeda yaitu masing-masing 23 tahun, namun mental dan kepribadiannya berbeda jauh, ini disebabkan karena keduanya memiliki latar belakang dan pengalaman hidup yang sangat berbeda. Pangeran Wirasaba adalah anak seorang Adipati atau adik kandung Panembahan Ratu (Raja Cirebon Ke II), yang tentu saja hidupnya dipenuhi dengan kebahagiaan dan serba kecukupan, maka sifat manja dan kurang teruji mentalnya sangat terlihat mencolok. Sedangkan Nyi Mas Ayu Naidra Lamaran Sari, meskipun putri dari seorang Adipati di Losari namun beliau tekun belajar dan senang bekerja dan sudah biasa melakukan pekerjaan sendiri. Pelajaran dan pekerjaan yang beliau tekuni adalah bidang pertanian. Sesuai dengan keadaan wilayah Losari yang tanah pertaniannya lebih luas daripada tanah daratannya. Ditambah lagi, ayahnya yaitu Pangeran Losari atau Pangeran Angkawijaya, menggembleng anaknya secara khusus dibidang pertanian ini. Beliau tidak memperlakukan anaknya sebagai seorang anak pembesar, melainkan mendidiknya seperti layaknya anak dari orang biasa, sehingga anaknya (  Nyi Mas Ayu Naidra Lamaran Sari) tumbuh sebagai anak yang tegar, tidak manja, Mandiri dan pekerja keras.

 BABAD HUTAN (ALAS) WANAJAYA DAN BERDIRINYA PEDUKUHAN BODE

Setelah masa bulan madu adiknya (kedua mempelai) sudah mencapai tujuh bulan, Panembahan Ratu (Raja Cerbon ke II) memerintahkan keduanya yaitu, Pangeran Wirasaba dan Nyi Mas Ayu Naindra Lamaran Sari, untuk segera membuka hutan dan mendirikan pedukuhan.
Pada hari selasa pagi, tanggal 1 Juli 1575 Masehi atau bertepatan dengan tanggal 30 Rabiul Akhir tahun 995 Hijriyah, dengan didampingi oleh ibunya (Nyi Mas Wanawati Raras) dan adik kakeknya (Nyi Mas Gandasari) yang masih perkasa meskipun usianya sudah menacapai 75 tahun. Yang sekaligus pula wakil dari Panembahan Ratu yang akan meresmikan Pedukuhan dan melantik kepala Dukuhnya, berangkat menuju hutan Wanajaya, dengan diikuti oleh dua regu prajurit keraton yang masing-masing dipimpin oleh Raden Bayabadra dan Raden Jumantri. Para prajurit inilah yang akan bekerja untuk membuka / menebang hutan yang luasnya hampir mencapai 5 hektar, menurut ukuran sekarang.
Dalam rombongan itupun ikut pula adik dari Nyimas Wanawati yaitu Pangeran Sedang Garudaatau yang dikenal dengan sebutan Ki Ageng Mantro dan sahabat karibnya bernama Tuan Ahmad. Tuan Ahmad adalah seorang saudagar dari arab yang juga seorang Da’i (penyebar agama islam). Kehadirannya atas restu dan atas permintaan Penembahan Ratu untuk membina umat islam di wilayah baru itu.
Atas petunjuk dari Panembahan Ratu, Rombongan ini memulai perjalanannya dari rumah Ki Gede Kaliwulu menuju hutan Wanajaya dengan menyusuri sungai Kaliwulu. Tempat utama yang dituju adalah tempat tempat dimana dulu Mbah Kuwu Cerbon sholat dan bermunajat kepada Allah SWT, yaitu sebuah dataran yang agak tinggi, banyak ditumbuhi pohon rindang, berhawa sejuk, berair bening dan segar.
Rombongan terdepan adalah para prajurit yang berjalan kaki, diikuti keluarga Keraton yang menaiki kuda berjalan pelan karena melewati pinggiran sungai yang masih banyak ditumbuhan liar, yang harus dibabad terlebih dahulu oleh para prajurit . dan dibelakangnya ada putra Ki Gede Kaliwulu yang menjadi petunjuk jalan, yang berjalan sambil menuntun KERBAU BULE RAKSASA (Kebo Gede, Bahasa Jawa) hadiah pernikahan dari Panembahan Ratu. Selang beberapa waktu sebelum dzuhur, lokasi yang dicari sudah ditemukan. Nyi Mas Gandasari lalu naik ke dataran tinggi itu dan bersujud syukur ke hadirat Allah SWT.


Benar apa yang dikatakan ramanya, yaitu Mbah Kuwu Cerbon yang sekarang sudah wafat, bahwa tempat itu begitu sejuk dan airnya bening segar.
Usai sujud syukur, Nyi Mas Gandasari selaku pemimpin rombongan memerintahkan prajurit dan anggota rombongan lainnya untuk beristirahat. Seorang prajurit yang mungkin berasal dari Tegal memberitahukan kepada rekan-rekannya dengan mengucapkan : ayo kabeh pada glelengan ! (mari semua pada beristirahat sambil tiduran), ucapan itu sampai terdengar oleh Nyi Mas Gandasari. Setelah itu beliau berkata : “Wahai sekalian, saksikan, bukit ini mulai sekarang aku beri nama Bukit Gleleng”
Nama Gleleng sampai sekarang menjadi nama sebuah tempat pemakaman umum, yaitu TPU Si Gleleng. Sedangkan tempat berkholwatnya Mbah Kuwu Cerbon dan tempat sujud Syukurnya Nyi Mas Gandasari , oleh masyarakat setempat diberi nama Maesan Watu, karena ditempat itu sekarang terdapat petilasan yang berupa kuburan atau makam yang bernisan dari batu.  
Bukit Gleleng oleh Nyi Mas Gandasari dijadikan posko pembukaan / penebangan hutan Wanajaya. Sedangkan untuk tempat tinggal keluarga keraton dan para prajurit dibuat bangunan rumah dan barak-barak disebelah timur sungai. Lalu Nyi Mas Gandasari memberi nama lokasi itu dengan nama : “UMAH RINTIS” yang berarti : “Rumah Pertama”. Masyarakat sekarang menyebutnya Tumarintis.
Pagi, hari rabu tanggal 2 Juli tahun 1575 Masehi atau 995 Hijriyah, Nyi Mas Gandasari Memimpin para prajurit menebang hutan disebelah barat bukit Gleleng dan Nyi Mas Wanawati memimpin yang lainnya mengadakan dapur umum. Nyi Mas Ayu Naindra Lamaran Sari mengeluarkan Periuk Tanah Besar (Pendil Besar, bahasa jawa) yang merupakan pemberian dari Ibu nya yang bernama Nyi Silih Asih. Pendil besar ini agak antik. Karena beras yang ditanak cepat  masak dan nasinya mekar, seolah-olah nasi tersebut tidak habis-habis dimakan oleh semua anggota rombongan.
Sementara itu, putra Ki Gede Kaliwulu sibuk menjalankan tugasnya sebagai seorang ahli kayu, yaitu membikin bajak (weluku, bahasa jawa). Yang nantinya akan dipergunakan untuk membajak sawah yang luasnya hampir +/- 5 hektar untuk ukuran sekarang. Bajak sengaja dibuat agak besar, karena yang akan menariknya adalah seekor Kerbau Bule Raksasa. Panjang sawah yanga akan dibikin rencananya adalah 1000 depa atau 500 meter, sedangkan lebarnya tidak ditentukan, hanya saja bila nanti ditemukan sebuah saluran air maka penebangan dihentikan sampai disitu.


Dua hari kemudian, hutan yang dipersiapkan untuk lahan sawah itu telah selesai dan bersih, tinggal dibajak saja.
Pagi, hari jumat tanggal 4 Juli tahun 1575 Masehi, Nyi Mas Gandasari mengistirahatkan prajurit-prajuritnya, karena mayoritas rombongan yang laki-laki itu akan melaksanakan sholat jumat.
Setelah shalat jumat, pekerjaan pembajakan sawah segera dimulai. Pekerjaan ini sangat berat , karena dengan sebuah bajak harus menyelesaikan sawah yang luasnya hampir 5 hektar, dalam 1 hari 1 malam.
Hari sabtu sore, saat waktu ashar tiba pembajakan sawah selesai sudah. Kerbau Bule Raksasa yang sangat perkasa dan berjasa itu sangat melelahkan dan kecapean. Dan tanpa permisi kepada siapapun si kerbau pergi meninggalkan rombongan, berjalan kearah selatan menyusuri sungai kecil yang merupakan batasan sawah dan daratan disebelah baratnya, hingga sampai ke mata airnya, yaitu sebuah belik (mata air) yang sampai sekarang, oleh masyarakat setempat belik itu diberi nama belik “Ki Bean”.
Karena terlalu lelah dan capeknya, Kerbau Bule Raksasa yang sangat perkasa dan berjasa itu berkubang sampai tertidur ditempat itu. Tanah belik yang dikubangi Sang Kerbau sampai ambles, hingga tapaknya sampai sekarang masih dapat dilihat (di blok Kedung Gondang, Desa Bodelor).
Sementara itu, Nyi Mas Gandasari yang sedang berkumpul dengan seluruh rombongan, baru sadar bahwa sang Kerbau Bule Raksasa telah hilang entah kemana. Kerbau Wasiat hadiah dari Panembahan Ratu itu jelas jangan sampai hilang, apalagi sampai dimakan binatang buas. Nanti apa kata Panembahan Ratu. Untuk itu harus dicari sampai dapat karena rencananya peresmian pedukuhan dan pelantikan kuwu akan diadakan setelah sholat isya, hari itu juga.
Setelah dicari ke seluruh sudut dilokasi itu, barulah datang salah seorang prajurit dengan tergopoh-gopoh mengadap dan melaporkan kepada Nyi Mas Gandasari, bahwa dirinya telah menemukan sang kerbau sedang berkubang sambil tertidur, entah masih hidup atau tidak. mendengar  laporan itu Nyi Mas Gandasari segera menuju tempat yang dimaksud oleh prajurit tersebut. Betul juga apa yang disampaikan oleh prajurit tadi, bahwa sang kerbau sedang berkubang sambil tertidur. Merasa ada tuannya datang ditempat itu, sang kerbau terbangun dan menghampiri Nyi Mas Gandasari. Lalu Nyi Masa Gandasari menuntun Sang Kerbau Bule Rakasasa tersebut meninggalkan tempat itu.
Setelah shalat magrib, Nyi Mas Gandasari mengumpulkan keluarga keraton dan memusyawarahkan mengenai apa nama pedukuhan yang telah dimulai penebangannya itu.
Hasil musyawarah menetapkan, karena jasa besar Kerbau Bule Raksasa yang telah membajak sawah, dan untuk mengenang jasa Kerbau Bule Raksasa tersebut, maka pedukuhan itu diberi nama pedukuhan “KEBO GEDE” (Kerbau Besar , bahasa indonesia). Namun untuk memudahkan penyebutannya, maka di singkat menjadi “BODE” kepala pedukuhannya disebut Ki Kuwu Bode, dan setelah pedukuhan ini berubah menjadi tanah perdikan, sebutan Ki Kuwu Bode berubah menjadi Ki Gede Bode. Dan sawah yang baru dibuka itu, yang merupakan tanah kelungguhan atau tanah bengkok untuk istirahat sekarang, diberi nama :”SAWAH GEDE”.
Dan detik-detik yang ditunggu-tunggu telah tiba, yaitu pelantikan kepala pedukuhan dan peresmian pedukuhan baru yang berada di bawah kekuasaan kerajaan cirebon.
Upacara dimulai, para prajurit dan rombongan lainnya berbaris bershaf. Nyi Mas Gandasari berdiri di depannya menghadap ke arah barisan upacara tadi. Dibelakangnya berdiri sambil berbaris para keluarga keraton dan tak lupa sang Kerbau Bule Raksasa yang gagah perkasa berdiri tegak disamping agak kebelakang Nyi Mas Gandasari.
Dan Nyi Mas Gandasari menyampaikan pengumuman resminya. “Wahai para prajurit, dengan disertai rasa syukur kepada Allah SWT, dengan ucapan bismillahirrahmanirrahiim pada hari ini, sabtu tanggal 5 Juli 1575 Masehi Ba’da isya bertepatan dengan tanggal 4 Jumadil awal tahun 945 Hijriyah, saya atas nama Kerajaan Cirebon, Panembahan Ratu, meresmikan pedukuhan ini dengan nama “PEDUKUHAN BODE”  dan melantik Pangeran Wirasaba sebagai Kuwu Bode pertama.